Assalamu alaikum wr wb. Apa kabar? Saya harap anda dalam keadaan sehat wal afiat saya di sini juga sehat tampa kurang suatu apapun [malah nulis surat
]. Di Indonesia, di negeri kita tercinta ini ada sebuah gerakan yang dinamakan IGOS [Indonesia Go OpenSource] yang di gembar-gemborkan akhir-akhir ini. Namun ironisnya orang-orang yang menggembar-gemborkan gerakan itu malah melakukan tindakan yang bertolak belakang dengan apa yang di ucapkan mulut [baca: cocot] nya sendiri. IGOS dideklarasikan pada 30 Juni 2004 oleh 5 kementerian yaitu Kementerian Negara Riset dan Teknologi, Departemen Komunikasi dan Informatika, Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, Kementerian Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Departemen Pendidikan Nasional. Tapi banyak juga orang atau komunitas yang juga ikut menggebar-gemborkan gerakan itu.
Terserah anda berpikir kalau tulisan saya ini sangat subjektif atau malah berpikir penulis adalah orang konyol tolol atau frustasi. Namun ini benar-benar mengganjal di hati saya. Ini berawal dari sebuah kebingugan saya dengan Ubuntu yang terinstall di notebook saya sebagai seorang newbie saya punya inisiatif untuk bertanya kepada “orang yang saya anggap” pintar/mampu untuk membantu saya mengatasi masalah tersebut, namun apa yang saya dapatkan? SAKIT HATI!
Kenapa ko’ malah sakit hati? Ternyata saya tanya ke orang yang salah. Dia tidak mau membantu saya! Bahkan menjawab pesan saya pun tidak! Untuk seorang newbie itu membuat kita [newbie] patah semangat untuk belajar Linux! Dan menurut pengamatan saya mereka cuma berbagi dengan “teman dekat” nya saja. Atau mungkin malah hanya share dengan komunitas OpenSource miliknya. Memang orang-orang tersebut mempunyai web atau blog pribadi yang bisa jadi tempat berbagi dengan orang lain bahakn seluruh dunia tapi itu bukan jaminan dia mau berbagi sepenuh hati. Indikasinya bisa anda lihat di Commnet blog mereka. Apakah mereka akan menjawab pertanyaan orang yang meraka tidak kenal?
Ini sungguh teramat sangat di sayangkan. Itu sangat berlawanan dengan hakikat Opensource yang mengutamakan kebebasan, keterbukaan. Dan kejadian tersebut tidak hanya untuk 1 kali, berulang! Aktifis opensource itu beda dengan Artis. Wajar jika seorang artis tidak membalas pesan dari penggemarnya yang sangat banyak. Dan seseorang yang dimintai bantuan seharusnya bersyukur berarti mereka di anggap pintar/ mampu oleh orang yang bertanya. Kalian bisa coba sendiri- sendiri di rumah
coba kalian ajak chat orang-orang yang “terkenal” di kalangan opensource apakah mereka akan menjawab? Memang itu tidak dilakukan oleh semua orang-orang “terkenal” itu.
Memang sebagai seorang newbie kita juga harus menghormati orang-orang “pintar” yang pasti sangat sibuk, mulai dari ditanyain newbie lainya, ngurus blog, project, dll. Jadi jangan sampai kita tanya terlalu berlebihan ada baiknya kita cari dulu ke google dan pengembanganya bisa kita tanyakan ke orang “pintar” tersebut. Dengan begitu timbul rasa saling menghormati sehingga akan tercipta lingkungan Opensource yang “sebenarnya”.
Terima Kasih atas waktu yang anda luangkan untu membaca post tak penting ini.
Maaf jika ada salah kata atau malah seluruh tulisan ini membuat hati anda panas dan sakit. peace 
Wassalam.
regard, h1dr0X